Oleh : Theo Raharjo
Guru Jurusan Teknik Audio Video
Mahasiswa Magister Pendidikan Guru Vokasi Universitas Ahmad Dahlan 2021

Pada setiap jenjang pendidikan terutama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terdapat layanan khusus untuk menangani para siswa yang diampu oleh tenaga khusus dalam wadah struktur organisasi Bimbingan dan Konseling. Salah satu layanan yang diberikan kepada para siswa SMK adalah bimbingan karier. Menurut Winkel (2005 : 114), bimbingan karier adalah bimbingan untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapai dunia kerja. Tujuan akhirnya adalah pembekalan dan informasi tentang berbagai bidang dunia kerja, sehingga siswa tersebut dapat memilih dan menyesuaikan bidang kerja sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Menurut Marsudi (2003:113), bimbingan karier adalah program sistematis yang meliputi proses, teknik dan layanan untuk membantu individu/siswa memahami dan mengembangkan potensi dan ketrampilan diri sehingga dapat menciptakan dan mengelola perkembangan kariernya secara mandiri.

Dari beberapa pendapat para ahli tentang bimbingan karier dapat disimpulkan bahwa bimbingan karier merupakan suatu proses bantuan, layanan, terhadap individu/siswa agar dapat mengenal dan memahami potensi dirinya sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan menentukan karier atau melanjutkan bidang pendidikan yang lebih tinggi. Di SMK, bimbingan karier perlu dilaksanakan dengan terprogram dan berkelanjutan karena dapat digunakan untuk membantu siswa memilih jurusan atau kompetensi keahlian sesuai dengan minat dan bakat siswa. Melalui Bursa Kerja Khusus (BKK) yang ada di setiap SMK, program bimbingan karier dapat membantu siswa untuk menyalurkan siswa untuk berkarier di bidang perusahan yang sesuai dengan jurusan atau minat dan bakat siswa.

Adapun secara khusus, tujuan bimbingan karier di SMK adalah untuk membantu atau memfasilitasi perkembangan individu (siswa) agar memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:

  1. Memahami dan menilai dirinya, terutama potensi dasar (bakat, minat, sikap, kecakapan, dan cita-cita) yang terkait dengan dunia kerja yang akan dimasukinya kelak. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karier sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam memahami dan menilai potensi dasar yang dimilikinya. Oleh karena itu, setiap siswa perlu dibantu untuk memahami potensi dasar dirinya, sehingga mereka dapat menentukan pilihan atau mengambil keputusan yang sesuai dengan dunia kerja pilihannya tersebut.
  2.  Menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada pada diri dan masyarakatnya, sehingga menumbuhkan sikap positif terhadap dunia kerja. Sikap positif berarti  individu tersebut mau bekerja dalam bidang pekerjaan apa pun tanpa merasa rendah diri, yang terpenting hal tersebut bermakna bagi diri dan lingkungannya, serta sesuai dengan norma agama yang dianutnya.
  3. Mengetahui lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dirinya serta memahami jenis-jenis pendidikan dan/atau pelatihan yang diperlukan untuk mengembangkan karier dalam bidang pekerjaan tertentu. Melalui pengetahuan dan pemahaman tersebut individu terdorong untuk membentuk identitas karier dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, persyaratan yang dituntut, lingkungan pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
  4. Menemukan dan dapat mengatasi hambatan-hambatan yang disebabkan oleh faktor diri dan lingkungannya.
  5. Merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial-ekonomi.
  6. Membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier. Misalnya, apabila seorang siswa bercita-cita menjadi pemandu wisata, dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karier kepariwisataan.

Realita di lapangan, peran bimbingan karier di SMK kurang maksimal. Salah satu hambatanya adalah tidak adanya jam khusus bimbingan karier yang diberikan untuk tatap muka di kelas (Haryanto, A., 2019). Perbandingan jumlah guru BK dan jumlah siswa di SMK sering melebihi batas yang ideal yaitu 1 guru BK membimbing 150-160 siswa sesuai yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.111 tahun 2014, sehingga peran guru BK tidak maksimal. Beberapa kasus yang terjadi di SMK adalah sekolah menunjuk guru BK yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari yaitu Bimbingan dan Konseling, sehingga peran guru BK belum maksimal. Dari hasil penelitian Kumalasari, K. (2011), sebagian Guru BK belum responsif dengan adanya perkembangan informasi-informasi karier yang bersifat dinamis seperti pasar bebas dalam persaingan kerja.

Kesimpulan

  1. Perlu diberikan bimbingan karier sedini mungkin untuk mengetahui potensi diri, sehingga individu dapat berkarier sesuai dengan minat dan bakatnya. (Orang yang berkarier tidak sesuai dengan minat dan bakatnya pasti tidak akan maksimal kinerjanya.)
  2. Dalam dunia pendidikan bimbingan karier (potensi bakat dan minat) dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan ke bidang dan jurusan pendidikan yang lebih tinggi.
  3. Orang yang berkarier tidak sesuai dengan potensi diri/minat dan bakat, cenderung akan bermasalah dalam kariernya.

Daftar Pustaka

Haryanto, A. (2019). Bimbingan Dan Konseling Karir Pada Perencanaan Karir Siswa Kelas XII SMK N 1 Kepahiang. Doctoral Dissertation, IAIN Curup.

Kumalasari, K. (2011). Bimbingan Karier Terhadap Orientasi Kerja di SMKN 3 Banjarmasin.

Marsudi, L. (2003). Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Malang: UNM Press.

Supriatna, M., & Budiman, N. (2009). Bimbingan Karier di SMK. Dalam e-book.

Winkel, W.S. (2005). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *