Muspla Nguri-Uri Tradisi Warisan Sang Nabi

Syuro, demikianlah kebanyakan orang jawa menyebut bulan Muharram yang dimuliakan oleh Allah. Bagi sebagian masyarakat awam, mereka menganggap bulan syuro adalah bulan kesialan. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan bulan Syuro pantangan untuk walimahan (ewuh mantu), khitan (supitan), maupun memperbaiki rumah (dandan).
Dalam rangka membentengi para siswa dari keyakinan yang menyeleweng dari ajaran Islam tersebut, SMK Muhammadiyah 1 Playen mensosialisasikan kemuliaan bulan syuro dengan pijakan dalil otentik dari Al-Quran maupun As-Sunnah Al-Maqbulah. Dengan menggunakan momentum kultum bakda Dhuhur maupun khutbah jumat, Wakil Kepala Urusan ISMUBA dengan penuh semangat melakukan tashfiyah (pembersihan syirik, tahayul, bid'ah, maupun khurafat) yang menggejala di masyarakat, khususnya Gunungkidul.
Selain, melakukan tashfiyah, bidang Keislaman di sekolah yang akrab disapa dengan sebutan MUSPLA tersebut juga mensosialisasikan amalan puasa sunnah Asyuraa' kepada seluruh warga sekolah. Alhasil, dengan penuh semangat nguri-uri tradisi warisan Sang Nabi (ihyaus sunnah an-nabawiyah), 90% warga MUSPLA menunaikan ibadah puasa dengan pahala menghapus dosa selama 1 tahun tersebut.

 

uriuri.jpeg

Kegiatan rutin sholat dhuha berjamaah di SMK Muhammadiyah 1 Playen

 

Sesuai kalender Hijriyah Muhammadiyah 1439 H, warga MUSPLA menunaikan puasa sunnah 10 Muharram 1439 H, yang jatuh pada hari Sabtu, 30 September 2017. Para siswa diwajibkan untuk berpuasa sunnah, kantin sekolah pun tidak diperkenankan untuk berjualan. Selain itu, untuk menambah kekhidmatan puasa sunnah tersebut, saat jam istirahat dilaksanakan shalat Dhuha berjama'ah dan doa bersama untuk keberkahan MUSPLA dan bangsa. "Ini adalah bentuk nyata kepedulian MUSPLA terhadap penguatan pendidikan karakter yang dicanangkan oleh Muhammadiyah, tutur Adik Ariyanta selaku wakil kepala yang membidangi Keislaman dan Kemuhammadiyahan di MUSPLA.